Manusia memang tak luput dari salah dan dosa, gak ada tuh sejarahnya manusia luput dari dosa, kecuali nabi manusia pilihan Allah SWT. Nah dengan predikat manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa, apakah kita pantas menjudge seseorang itu salah atau benar, bukankankah yang berhak mengatakan salah dan benar, dosa atau tidak itu mutlak milik Allah SWT.
Kadang suka gregetan sama orang yang merasa dirinya paling benar, merasa dia manusia tanpa cacat karena dosa, gak pernah melakukan salah, apa yang dia lakukan dan kerjakan sudah sesuai dengan aturan agama karena dia udah belajar agama lebih baik dari gw, gak munafik gw emang gak belajar agama seperti dia yang sering ikut2 pengajian, tapi insya allah gw tau batasan2 dan norma2 agama, insya allah sebisa mungkin menjadi muslimah yang baik.
Dua hari yang lalu, ada seorang teman menulis status di FB, dimana status itu dia menulis kalo dia sangat terganggu dengan suara wirid orang di masjid dengan suara besar (menggunakan speaker), membaca status ini bener2 geregetan sama teman itu, , saking jengkelnya, karena teman ini sering banget buat status yang sama sampai2 "hellowwwww kalo gak mau terganggu dengan suara2 di masjid tinggal aja di hutan :(" jerit dalam hati.
Logikanya, kalau dia mau berdakwah dengan pemahaman yang dia anggap benar ya sampaikan saja langsung ke orangnya, dari pada buat status di FB gak ada manfaatnya, yang ada dia hanya mengumbar coment2 yang kontrofersi dan akibatnya menimbulkan konflik antara yang pro dan kontra karena berbeda pemahaman.
Yang namanya hidup itu bukannya harus saling bertenggang rasa??, dengan sesama non muslim saja kita harus bertenggang rasa tentunya bukan dalam aqidah, masa dengan sesama muslim saja kita tidak bisa saling menghormati perbedaan pemahaman, selama itu masih merujuk pada Al'qur'an dan sunnah.
Mungkin pemahaman dia benar bahwa wirid itu menjadi bid'ah jika dilantunkan dengan suara yang besar (menggunakan speaker), mungkin juga pemahaman yang lain benar dengan melantunkan wirid degan suara yang besar (mengguanakn speaker), karena masing2 memegang dalil nya.
Dikisahkan, Sahabat Umar bin Khattab selalu membaca wirid dengan suara lantang, berbeda dengan Sahabat Abu Bakar yang wiridan dengan suara pelan. Suatu ketika nabi menghampiri mereka berdua, dan nabi lalu bersabda: Kalian membaca sesuai dengan yang aku sampaikan. (Lihat al-Fatâwâ al-hadîtsiyah, Ibnu Hajar al-Haitami, hal 65).
Berdzikir (wiridan) dengan suara keras (jahr), setelah shalat maktubah atau shalat sunah, menurut kesepakatan (ijma’) para Ulama’ hukumnya sunah, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw, sebagaimana yang di terangkan dalam hadits-haditsnya :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ اَعْلَمُ اِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ اِذَا سَمِعْتُهُ. رواه البخارى ومسلم
Artinya : “ Dari Ibnu Abbas r.a, ia menceritakan : bahwa sesungguhnya mengeraskan suara dengan dzikir ketika orang-orang selesai shalat fardlu itu sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Saw. Ibnu Abbas menjelaskan lagi; aku dapat mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat, demikian itu kebetulan aku mendengarnya”. HR. Imam Bukhari.
اَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ اَخْبَرَهُ اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ لِلذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَتَ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنْتُ اَعْلَمُ اِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ وَاَسْمَعُهُ . رواه ابوداود.
Artinya : “Sesungguhnya Ibnu Abbas menceritakan, bahwa mengeraskan suara untuk dzikir ketika orang-orang selesai shalat fardlu itu adalah sudah terjadi sejak zaman Rasulullah Saw. Kata Ibnu Abbas : aku ketahui yang demikian itu ketika mereka selesai shalat dan aku juga mendengarnya “. HR. Imam Abu Dawud.
terlepas shahih atau tidaknya hadist diatas, pastinya hanya Allah yang MAHA BENAR, dan hanya Allah yang maha tahu, tinggal bagaimana manusia menjalankan apa yang Allah perintahkan sesuai dengan aturan yang sudah Allah perintahkan.
Dengan niatan sebagai teman yang baik, gw nasihatin (dengan perasaan bukan menjadi manusia yang paling benar, hanya sebagai manusia yang saling mengingatkan saja) dengan bahasa yang sangat halus agar tidak menyinggung siapa2 terutama temen yang nulis status itu (orangnya sensian 'n kadang susah terima kritikan), dan benar saja, akhir dari nasehat menasehati, teman tersebut sepertinya tidak menerima nasehat dari gw untuk hati2 menulis status di FB yang terkesan menjelekkan satu golongan. Baiklah, mungkin dia tidak perlu nasehat dari orang yang dia rasa ilmu agamanya masih cetek (memang masih cetek, tapi insya allah pikiran dan hati tidak tertutup untuk menerima kritikan dan saran).
Sampai akhirnya, dengan niatan tidak ingin silaturahmi terputus, gw sarankan jika tidak suka untuk mendeleted coment2 gw yang dirasa kurang berkenan, teman ini malah berkata "saya bukan tipe orang yang suka mendeleted jika tidak suka" tapi kenyataannya 2 hari kemudian statusnya gak ada.."hellowwwww...... ucapan sama kelakuan gak sama" apa tuh namanya.. hmmmm cukup tau ajah orang seperti apa dia...
hehehhee
BalasHapus